Our Happy Project

Home Education Journey

Menikmati Suasana Kota Lama Semarang di Masa Liburan Sekolah


Bulan lalu saya sudah menulis tentang Naik Kereta Api Jarak Jauh Bareng Anak-Anak. Naik kereta api jarak jauh seru banget ya, jadi pengen jalan-jalan naik kereta api lagi he he. Salah satu daerah yang kami datangi adalah kota Semarang. Tujuan utama kami ke Semarang adalah menghadiri acara keluarga. Tapi namanya sudah sampai sana ya sekalian dong pergi ke beberapa tempat juga. Nah salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Kota Lama Semarang. 

Kalau ke Semarang memang jangan sampai melewatkan tempat yang satu ini ya. Karena Kota Lama banyak disebut-sebut sebagai Little Netherland di Semarang. Main ke sini memang berasa jalan-jalan ke Eropa karena arsitektur bangunannya yang khas. 



Apalagi banyak bangunannya dalam kondisi terawat, jadi memang cantik banget. Beberapa di antaranya bahkan menjadi landmark atau markah tanah kota Semarang. Bagi yang hobi berburu foto dan difoto pasti senang deh di sini. Kata anak jaman now tempatnya estetik banget!

Baca juga: Taman Jepang Chan Chan, Bandar Lampung.

Kawasan Kota Lama ini sebenarnya sudah kami lewati saat perjalanan dari Stasiun Semarang Tawang ke penginapan. Kota Lama di malam hari juga terlihat cantik dan ramai. Terutama karena saat itu sedang dalam masa liburan sekolah. Esok harinya kami kembali ke Kota Lama untuk berjalan-jalan dan menikmati suasananya. Sebelum ke Eropa beneran (Aamiin) ya main-main ke sini dululah yaaa. 



Sejarah Kota Lama Semarang

Jalan utama di Kota Lama Semarang dulu namanya Heeren Straat. Sekarang menjadi Jalan Letjen Suprapto. Kawasan ini terletak di Tanjung Mas, Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah. Kok bisa kawasan ini banyak bangunan peninggalan Belanda tuh bagaimana ceritanya ya?

Dulunya kawasan ini termasuk dalam wilayah Kerajaan Mataram Islam. Pada abad ke-17, Mataram Islam kewalahan menghadapi pemberontakan Trunojoyo dari Madura. Nah pemerintah kolonial Belanda menawarkan bantuan. “Kami bantu melawan pemberontakan itu ya, tapi kota syaratnya kota Semarang diserahkan ke kami.” begitulah kira-kira ceritanya. 




Kesepakatan ini terjadi 346 tahun lalu  tepatnya bulan Januari tahun 1678. Ternyata pemerintah kolonial Belanda memang sudah mengincar kota Semarang terutama kawasan Semarang Utara yang merupakan daerah pelabuhan. Setelah Semarang berada di bawah kekuasaan Belanda, didirikanlah berbagai bangunan di kawasan Kota Lama mulai dari gedung pemerintahan, perumahan warga, dan benteng segi lima bernama Benteng Vijfhoek. 

Jembatan Pembatas Si Kaya dan Si Miskin 

Kota Lama Semarang ini dulu merupakan kawasan elit. Salah satu lokasi pintu benteng ternyata masih ada hingga kini, yaitu Jembatan Berok. Jembatan ini dulu dijaga ketat, Man-teman, karena merupakan penghubung antara masyarakat Eropa yang tinggal di Kota Lama dengan masyarakat luar. 



Kenapa disebut Jembatan Berok? Karena lidah masyarakat pribumi sulit menyebutkan ‘burg’ yang dalam bahasa Belanda berarti jembatan. Jembatan ini bahkan pernah jadi simbol pembatas antara si kaya dan si miskin. Dulu Jembatan Berok bisa dibuka tutup karena sungai mengalir di bawahnya digunakan sebagai jalur kapal dagang. 

Tahun 1800-an barulah pemerintah kolonial Belanda mengizinkan masyarakat sekitar untuk berinteraksi dengan warga Eropa di Kota Lama. Ternyata di sekitar Kota Lama juga ada Kampung Melayu, Pecinan, Kampung Jawa, dan Kampung Arab. Akhirnya jembatan itupun menjadi penghubung antar-etnis yang ada di Semarang.

Bangunan di Kota Lama Semarang dan Sekitarnya

Kota Lama Semarang ini luasnya kurang lebih 31 hektare. Karena keterbatasan waktu kami nggak bisa menjelajahi semua kawasannya. Tapi ada beberapa titik yang kami datangi atau lewati di Kota Lama dan sekitarnya. Siapa tau nih bisa jadi ide kalau Teman-teman ingin berkunjung ke sini juga.

Gedung Spiegel

Ternyata gedung ini adalah bekas pusat perbelanjaan jaman kolonial Belanda. Toserba pertama di Jawa Tengah ini didirikan tahun 1895. Salah satu pendirinya adalah pengusaha Austria-Hungaria Bernama Herman Spiegel. Barang yang dijual misalnya mentega, alat olahraga, guci air minum, hingga lampu gas, dan peralatan kantor. Sudah pasti orang kalangan elit aja yaaa yang bisa berbelanja di sini. 



Gedung ini sempat dijadikan gudang dan kondisinya tidak terawat. Gedung yang masuk dalam Bangunan Cagar Budaya ini akhirnya direstorasi menjadi Spiegel Bar & Bistro. Fungsinya tak hanya untuk bersantap dan bersantai tapi juga menjadi obyek wisata di kawasan Kota Lama Semarang. Saat kami ke sini banyak orang berfoto dengan latar belakang gedung ini! 

Gedung Marba

Bangunan ikonik lain di Kota Lama Semarang adalah Gedung Marba. Gedung ini mudah ditemukan karena warnanya yang merah ngejreng! Gedung ini dibangun oleh pengusaha asal Yaman, Martha Bajunet. Tulisan MARBA pada bagian atas gedung ini merupakan singkatan dari namanya. 





Gedung ini pernah digunakan sebagai kantor usaha pelayaran dan toko. Menurut info dari situs pariwisata kota Semarang, gedung ini sekarang masih aktif digunakan sebagai perkantoran. Karena itu wisatawan Kota Lama hanya bisa foto-foto dari luar saja ya.

Baca juga: Mengenal Budaya Betawi di Kampung Betawi, Setu Babakan.

Gereja Blenduk

Nama gerejanya unik ya? Blenduk atau mblenduk dalam bahasa Jawa artinya menonjol atau menggelembung. Gereja ini disebut Gereja Blenduk karena atapnya berbentuk kubah, mirip seperti bangunan gereja di Eropa pada abad 17 dan 18. 



Ternyata bangsa Portugis yang membangun gereja ini pertama kali tahun 1753. Saat itu gerejanya berbentuk rumah panggung Jawa. Tahun 1894 hingga 1895, Belanda memperbaiki dan membangun ulang gereja ini serta mendirikan dua buah menara. Sama seperti Gedung Spiegel dan Gedung Marba, Gereja Blenduk juga ditetapkan menjadi Bangunan Cagar Budaya. 

Baca juga: Le Eminence, Hotel Ramah Anak di Puncak, Ciloto.

Kantor Pos Besar Semarang

Kantor pos ini terletak tidak jauh dari kawasan Kota Lama. Gedung ini adalah salah satu saksi Kota Lama pernah menjadi bagian pusat pemerintahan kolonial Belanda. Tau nggak sih? Ternyata kantor pos ini adalah kantor pos kedua yang dibangun Belanda di Indonesia. Tepatnya dibangun tahun 1750. Tebak di kota mana kantor pos yang dibangun Belanda berada?



Pasar Barang Antik 

Tidak jauh dari Gereja Blenduk (di bagian belakangnya) ternyata ada Galeri Industri Kreatif Kawasan Kota Lama. Apa ada apa ya di dalamnya? Teryata ada food court yang menjual makanan dan minuman serta pasar barang antik. Karena saat kami berkunjung masih agak pagi, jadi yang buka baru penjual es teh manis deh. 



Padahal ada juga beberapa booth makanan dan jajanan khas Semarang. Selain itu kami juga nggak dalam mode hunting oleh-oleh apalagi barang antik hu hu, jadinya hanya melihat-lihat saja deh. Buat Man-teman yang hobi mengumpulkan barang antik atau sedang mencari barang vintage untuk dekorasi, jangan lupa mampir ke sini ya!

Titik Nol Kilometer Kota Semarang 

Tidak jauh dari Jembatan Berok ada Titik Nol Kilometer. Anak-anak sempat bertanya, maksud titik nol itu apa sih ya? Titik nol ini adalah sebagai penanda pusat kota Semarang. Sebenarnya dari dulu sudah ada penanda titik nol ini tapi memang ukurannya tidak besar. Penanda titik nol yang baru kini telah dibangun dan diresmikan Mei 2023 lalu. 



Jasa Foto Keliling di Kota Lama Semarang

Oh iya, saat berkunjung ke pusat kawasan Kota Lama Semarang biasanya kita akan bertemu dengan orang-orang yang menawarkan jasa foto keliling. Tapi fotonya bukan pakai kamera mereka melainkan dengan kamera ponsel kita. Biayanya berapa? Kata fotografer yang kami temui sih biayanya seikhlasnya tapi biasanya minimal Rp 10.000,-. 

Baca juga: Berkunjung ke Museum Satria Mandala, Jakarta.

Karena si bapaknya juga sopan dan nggak maksa, sabar dan bisa bantu mengarahkan gaya plus hasilnya juga oke. Jadi sesama tukang foto harus saling menghargai dong ya. Jangan cuma ngasi Rp 10.000 apalagi karena ada jasa foto keliling ini saya juga jadi punya foto ha ha. 


Sebenarnya masih banyak tempat yang ingin kami lihat. Karena waktu itu kami lebih banyak menjelajah di satu sisi saja. Tapi karena waktu sudah makin mendekati waktu sholat Jumat jadi kami harus bergegas ke masjid terdekat. Masjid apakah itu? Kapan-kapan diceritakan juga di sini ya insyaa Allah. 







Comments

  1. udah lama ga ke Semarang, jadi kangen :')

    ReplyDelete
  2. Aku seneeeng banget kalo lihat kita2 tua begini masih terawat 👍. Ga dibiarkan kumuh . Krn sebenarnya jadi asset negara untuk tourism juga kan.

    Tiap kali traveling ke berbagai negara, aku pun sukaaa liat kota tua di sana mba. Kebanyakan semua terawat yg aku visit. Malah bener2 dijadikan objek wisata utama.

    Bersyukur kita punya kota tua semarang yg bisa ditunjukin juga ke turis2 yg datang 😍

    Aku sendiri baru sekali ke kota tua. Tapi beneran lewat, jadi ga eksplor 1-1. Masih kurang puas. Pengen spare waktu khusus kalo ke Semarang supaya bisa liat lbh banyak

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ke Our Happy Project by Keluarga Hasan
Mohon tidak berkomentar dengan kata kasar, spam, atau dengan link hidup ya
Terima kasih

back to top