Our Happy Project

Home Education Journey

Sharing Session Merancang Program Backpacking untuk Anak bersama Bu Diena Syarifa


Wow sudah berapa lama ya blog ini tidak diperbarui isinya? Tapi di Instagram @ourhappyprojectblog banyak konten baru kok. Hanya saja memang Mama 2R sebagai penanggungjawab blog keluarga masih agak sibuk dengan kegiatan lain. Terutama karena Rayyaan juga sudah masuk sekolah dan Razqa selalu cari-cari perhatian he he. 

Alhamdulillah kakak sekarang sudah resmi jadi anak kelas 1 SD. Seminggu lalu pihak sekolah mengundang wali murid untuk menghadiri sharing session tentang backpacking dan magang untuk anak sekolah. Rencana awal saya dan papa akan menghadiri acara tersebut dan anak-anak dititipkan ke ruang penitipan anak yang disediakan pihak sekolah. Namun karena Razqa baru sembuh dari sakit kami putuskan saya saja yang menghadiri acaranya.


Acara yang diselenggarakan di Balai Keratun ini dibuka oleh Ibu Citra Persada, Ketua Yayasan Sekolah Alam Lampung. Dalam sambutannya Ibu Citra berpesan pada orang tua supaya mempersiapkan diri dan juga anak supaya tidak tertinggal di era digital ini. Terutama karena anak-anak jaman sekarang merupakan generasi digital native yang memiliki mindset, cara belajar, dan cara berkomunikasi yang berbeda dengan jaman orangtuanya.


Selain itu mereka juga tidak suka sesuatu yang terlalu formal dalam belajar. Cara belajar anak-anak sekarang tidak hanya duduk dan membuka buku di kelas. Karena itulah sekolah mengadakan sharing session ini untuk membuka wawasan orang tua mengenai program backpacker dan magang yang bisa menjadi program pembelajaran bagi anak.

Kalau ada wali murid yang nggak datang ke acara ini sebenarnya sayang sekali lho. Karena pengisi acaranya adalah Bu Diena Syarifa, trainer Talents Mapping, JSAN (Jaringan Sekolah Alam Nusantara), dan owner SMA Homeschooling ABHome. Di Facebook saya cukup sering mengamati status beliau tentang cerita magang anak-anaknya dan cerita backpacking dan kegiatan lain anak-anak ABHome. 

Seru banget, kreatif, dan sayapun bisa merasakan kalau anak-anak tuh nggak cuma belajar teori tapi bagaimana aplikasinya di dunia nyata. Jadi kesempatan untuk mendengarkan langsung cerita dari Bu Diena ini sayang kalau dilewatkan.

Setelah perkenalan singkat oleh moderator acara ini yaitu Bu Julia Purnamasari, fasilitator Sekolah Menengah Sekolah Alam Lampung, acarapun masuk ke sesi pertama yaitu sharing tentang Backpacking untuk Anak.

Nggak nyesel memang datang ke acara ini. Nggak bikin bosen karena selain materinya menarik, Bu Diena itu humble, gaya ceritanya mengalir tapi terstruktur, semangat tapi tetap cool dan diselingi candaan atau cerita lucu tentang anak-anak dan siswa-siswinya.


Bu Diena mengibaratkan kita ini berada di kolam 3 generasi, yaitu:

1. Generasi X yang lahir tahun 1965 – 1980.
2. Gen Milenial yang lahir tahun 1980 – 1995.
3. Generasi Z yang lahir tahun 1996 – 2010. 

Jadi di sekolah ADA 3 GENERASI BERBEDA ERA. Wah kalau ditambah anak-anak yang lahir 2011 ke atas jadi empat generasi dong, Bu? He he. Gurunya ada yang dari gen X, orang tuanya gen milenial, anak-anak gen Z. Kebayang nggak sih ada gap  di antara ketiga generasi tersebut. 

Masih memaksakan anak untuk belajar seperti jaman kita dulu? Ternyata tidak bisa seperti itu, Bapak dan Ibu (juga Kakek dan Nenek he he). Karena kita dan anak hidup di jaman yang berbeda. Karena itu mendidik anak harus sesuai jamannya. Bukan anak yang dipaksa belajar seperti kita dulu. 

Ajak anak mencoba berbagai aktivitas supaya kita bisa memetakan minat dan bakat anak. Supaya anak belajar dengan seluruh potensinya dan tidak hanya belajar teori saja. Tujuannya adalah saat anak berusia 17 atau 18 tahun, kita sudah ‘selesai’ mendidik anak untuk jadi mandiri dan caranya adalah memiliki program pembelajaran yang mengikuti ala anak.



Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam memilih sekolah adalah bukan dari segi gedung dan  fasilitas saja, tapi lihat guru dan programnya. Cari juga sekolah yang memiliki guru dengan mindset mau belajar untuk mengajar anak sesuai jaman juga program pembelajaran yang sesuai untuk anak. 

Dua program yang sudah teruji untuk pembelajaran anak adalah Backpacking dan Magang. Namun dalam tulisan ini khusus membahas tentang backpacking dulu ya. Bu Diena sendiri sudah menerapkan program ini ke anak-anaknya lalu sudah diterapkan juga ke sekolah alam selama 10 tahun. 

Orang tua bisa mengajak anak untuk menjelajah wilayah sekitar dari usia 6 tahun. Baru kemudian secara bertahap ditingkatkan. Yang perlu diingat adalah backpacking di sini bukan seperti turis yang misalnya ikut agen perjalanan. Namun didiklah anak supaya memiliki jiwa musafir.

Foto: Pixabay.com

Seorang musafir itu aktif. Ia pergi mencari orang-orang baru, petualangan, dan pengalaman baru. Sementara seorang turis itu pasif, ia hanya mengharapkan hal-hal menakjubkan terjadi padanya saat ia berjalan-jalan.

Ajak anak untuk tidak hanya melihat dunia dari internet saja tapi kaki tidak melangkah kemana-mana. Indonesia itu terdiri dari banyak pulau. Jangan hanya meletakkan mereka di zona nyaman. Karena dengan backpacking, soft skill anak bisa terlatih. 

Soft skill sendiri adalah pengetahuan atau keterampilan yang tidak bisa digantikan oleh robot, misalnya kemampuan memecahkan masalah yang kompleks, berpikir kritis, kreatif, dan bekerjasama dengan orang lain. Karena itu dalam mendidik anak juga harus menyentuh sisi manusiawinya.

Top 10 Skills yang Bisa Diasah dengan Cepat Lewat Backpacking



1. Complex Problem Solving.
2. Critical Thinking
3. Creativity
4. People Management
5. Coordinating with Others
6. Emotional Inteligence
7. Judgement and Decision Making
8. Service Orientation
9. Negotiation

“Safar itu menyingkap sifat asli manusia dan menampakkan akhlak seseorang.”

Saat melakukan backpacking apakah anak ingat sholat? Saat makan dan minum apakah sambil duduk atau berdiri? Makan makanan halal nggak? Apakah sepanjang melangkah nilai-nilai Islamnya terpakai? Di sinilah orang tua bisa menjadi role model bagi anak saat melakukan perjalanan.

Pic: Pixabay.com

Bu Diena juga memaparkan, kalau backpacking itu nggak harus langsung ke luar negeri lho. Kita bisa memulainya dari yang sederhana dari lingkungan terdekat. Misalnya menelusuri rute angkot di kota tempat tingga. Ada lho siswa Bu Diena yang pernah mengamati jenis obrola ibu-ibu di angkot bahkan jadi sebuah buku! Selain itu, Bu Diena juga pernah mengajak anaknya membuat peta tempat makan bakso terenak di kota Bogor. 

Mau ke luar negeri? Boleeh, tapi sekarang menabung dulu sambil menyiapkan mental anak. Karena sekali lagi ditekankan untuk membentuk jiwa musafir anak bukan jiwa turisnya. Kalau dibuat per tahap seperti ini deh contohnya:

1. Anak TK, tingkat kelurahan, diajak menjelajah ke wilayah sekitar rumah.
2. Anak SD, ke ibukota provinsi, ibukota provinsi tetangga, ibukota negara. Di tempat-tempat ini bawa menjelajah ke pasar, ke taman, ke museum, menjelajah kota dengan alat transportasi, dsb.
3. Anak SMP, ke daerah-daerah lain di Indonesia.
4. Anak SMA, ke luar negeri misalnya ke negara-negara di ASEAN dan ada sesi mengenal komunitas muslim serta ke KBRI di negara tersebut.

Apa yang bisa diamati anak saat backpacking ke daerah lain? Kita bisa mengajak mereka mengamati bangunannya, sejarah, tradisi dan budayanya, agama, serta bahasanya.

“Anak yang sering menjelajah akan melihat sisi buruk sebagai refleksi dan melihat sisi baik sebagai sumber inspirasi.”

Di sesi ini banyak cerita Bu Diena soal siswa ABHome dan anak beliau sendiri saat backpacking. Salah satunya ada siswanya yang lama tinggal di Jepang dan merasa Indonesia itu kurang oke. Namun saat backpacking ke negara lain dan mendapat pengalaman ditipu orang dan tersesat, ia merasa bahwa Indonesia ternyata lebih baik. 

Banyak pelajaran yang bisa diambil anak saat melakukan perjalanan. Misalnya merasakan diri sendiri saat kondisi fisik lelah, seperti kutipan di atas bahwa safar bisa menyingkap sifat asli dan akhlak seseorang. Anak bisa belajar menata emosi ketika ada di dalam kondisi yang jauh berbeda dari lingkungannya sehari-hari dan membangun kesadaran tentang rendah hati. Ia juga belajar jadi dokter bagi diri sendiri selama perjalanan dan bisa mengubah cara pandang menjadi lebih baik.



Lebih lanjut lagi Bu Diena juga mengajak orang tua mendukung sekolah apabila memiliki program backpacking dalam kurikulumnya. Karena yang baik adalah backpacking ini dijalankan sebagai kurikulum inclusive seperti yang diterapkan di ABHome. Untuk biayanya bisa diusahakan dengan menabung, berhemat, dan berjualan.

Tapi kan orang tua suka baper dan khawatir berlebihan ya melepas anaknya pergi tanpa didampingi orang tua. Ya karena itu Bu Diena bilang JANGAN WARISKAN KETAKUTAN PADA ANAK. 

Backpacking ala ABHome sendiri ada 3 level:

1. LEVEL 1
Anak pergi dengan orang tua tapi konsepnya backpacking. Ajak anak melakukan rencana perjalanan. 

2. LEVEL 2
Anak pergi dengan orang dewasa yang dipecaya orang tua misalnya dengan guru di sekolah lewat program backpackingnya.

3. LEVEL 3 
Anak bisa menjadi backpacker agent yang membawa orang lain untuk berpergian. Apa bedanya dengan tour guide atau travel agent? Backpacker agent punya semangat untuk mengajak peserta menjelajah, bisa merancang perjalanan dari pra backpacking hingga evaluasi pasca backpacking serta bisa mengambil hikmah dari perjalanan tersebut.


Memangnya sudah ada contohnya anak yang bisa jadi backpacker agent? Wah ternyata siswa ABHome juga anak Bu Diena sendiri banyak yang punya pengalaman menjadi backpacker agent di usia belasan tahun! Seru banget mendengar pengalaman mereka. Saya jadi ingin membaca bukunya juga yaitu BACKPACKERAN SERU ALA ABHOME karya Bu Diena dan siswa-siswinya. 

Karena kan sharing session ini waktunya terbatas ya, padahal saya masih pengen banget mendengarkan cerita dari Bu Diena he he. Di buku tersebut dikupas juga persiapan mental jelajah anak sesuai tahapan usia, tentang bagaimana menerapkan manajemen travelling, bagaimana menerapkan kegiatan backpacking di dalam dan luar negeri, bagaimana mengobservasi minat dan bakat anak saat melakukan perjalanan, apa hubungannya Talents Mapping dengan backpackeran, serta bagaimana membentuk backpacker agent yang tangguh.  

Pasca mengikuti sesi ini mendadak jadi banyak orang tua yang ingin mengajak anaknya naik angkot  nih di kota Bandar Lampung, termasuk saya he he. Ya karena backpacking itu memang dimulai dari menjelajah wilayah yang dekat dulu lho. Ke pasar, ke perpustakaan, ke museum, ke pos pemadam kebakaran, makan di warteg, dsb yang ada di kota sendiri. Daan sebaiknya memang orang tua sudah mulai melatih anak, tidak perlu menunggu ada program di sekolah dulu. 

Ternyata backpacking yang banyak manfaatnya bisa dimulai dari hal sederhana ya… Tapi hal-hal sederhana seperti ini yang insyaa Allah juga bisa membangun kesadaran anak tentang rasa rendah hati. Dan kelak jika menjadi pemimpin juga akan menjadi pemimpin yang rendah hati, aamiin… 


Comments

  1. Untuk tahap awal ngajakin anak ke mana ya, mba? Baiknya pakai kendaraan apa? Pengen ngajak anak-anak naik bus atau kereta api tapi belum kesampaian. Adek bayi sama siapa. Hihi

    ReplyDelete
  2. wiih keren ya mak mengajak anak untuk backpacking. Banyak lagi hal positif yang didapat berkaitan dengan perkembangan anak. Suka saya

    ReplyDelete
  3. Mantap ini ilmunya. Memang tantangan banget kalau mengajak anak perjalanan jauh atau pun naik angkot. Anak bisa patuh gak sholat, cemilan halal biar jiwa anak terdidik mentalnya juga. Thanks sharing nya Mbk

    ReplyDelete
  4. Wah program keren banget nih mbak. Sebagai penikmat backpacking, aku pun juga ingin nanti kalau punya anak mau backpackeran sama anak. Seru pastinya. Ya Allah semoga bisa segera terwujud. Doakan yabak🙂😘

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ke Our Happy Project by Keluarga Hasan
Mohon tidak berkomentar dengan kata kasar, spam, atau dengan link hidup ya
Terima kasih

back to top