Top Social


Resensi Buku Hafidz Rumahan: Sebuah Teladan Pentingnya Misi Keluarga serta Peran Ayah dan Ibu dalam Pendidikan Anak


“Umi sedang menjaga (kondisi) badan, Senin mau ke Nias, insyaa Allah.” begitulah Umi Neny memberi kabar di grup Whatsapp di awal Januari 2019. Saya dan teman-teman memang tidak khusus bertanya ada keperluan apa. Karena yang saya tahu Umi sering menjadi narasumber dan mengisi kajian.

Bulan lalu ada kejutan lain, Umi mengabarkan bahwa sebentar lagi beliau akan meluncurkan buku terbaru. Tapis Blogger menjadi salah satu komunitas yang digandeng dalam peluncuran buku tersebut. Masyaa Allah ternyata kepergian Umi adalah dalam rangka menuliskan kisah keluarga Hasan Basri, hafidz cilik dari Nias.  

Tautan berisi formulir pendaftaran acara peluncuran bukupun dibagikan ke grup. Saya langsung mendaftar setelah mendapat izin dari suami. Peluncuran buku ini diikuti oleh pelatihan menulis resensi buku yang diisi oleh Bang Adian Saputra, Pemred Jejamo.com. Rasanya sayang jika acara ini dilewatkan begitu saja. Terlebih peluncuran buku dan pelatihan menulis ini diadakan pada hari libur.

Ahmad Hanzalah, adik dari Hasan Basri.

Kamis, 7 Maret 2019 sayapun meluncur ke Hotel G Syariah dengan diantar suami dan anak-anak. Di aula hotel yang nyaman ini saya dan peserta lain mendengarkan perjalanan Umi Neny dalam menulis buku ini. Saya juga berkenalan dengan Ahmad Hanzalah dan mendengarkan ayat suci Al Quran yang dilantunkan merdu oleh anak berusia 8 tahun ini. Hanzalah bersama abinya, Ustadz Abdurrohim adalah ayah dan adik dari Hasan Basri.

Bersyukur saya bisa menjadi salah satu perserta di acara ini, bisa mendapatkan buku serta sajian lezat. Namun yang tidak kalah penting adalah silaturahmi dengan teman dari berbagai komunitas, serta mendapat ilmu luar biasa dari narasumber. Rasanya tak sabar ingin segera menikmati keseluruhan isi bukunya.

Buku Hafidz Rumahan,
Ikhtiar Keluarga Awam Melahirkan 7 Penghafal Al Quran

Judul:
 Hafidz Rumahan, Ikhtiar Keluarga Awam Melahirkan 7 Penghafal Al Quran 
Penulis: Neny Suswati
Jumlah Halaman: 200
Penerbit: Aura Publishing
ISBN: 978-623-211-033-5
Cetakan Pertama: Februari 2019
Harga: Rp 65.000

Perkenalan Sosok Ayah dan Ibu 


Lewat dua bab pertama di buku ini, pembaca diajak berkenalan dengan sosok ayah dan ibu yang mengantarkan Hasan Basri dan saudara-saudaranya menjadi hafidz Quran. Yaitu Ramlan Dalimunthe dan Sri Maharani Hasibuan. Keduanya lahir dari keluarga sederhana. Ramlan adalah sarjana lulusan Universitas Sumatera Utara dan Rani lulusan SMA. 

Mereka menikah tahun 1997 dan setahun kemudian Ramlan diangkat menjadi guru (PNS) di sebuah sekolah di Nias. Titel sebagai sarjana dan PNS membuat masyarakat sekitar memandang Ramlan sebagai seseorang dengan pemahaman agama yang baik. Sesuatu yang sering membuatnya jengah karena menyadari bahwa dirinya masih sering meninggalkan sholat dan awam ilmu agama.

Awal kehidupan pernikahan mereka tidak berlangsung mulus. Rani merasa masih terlalu muda dan menikah karena dijodohkan orang tua. Sering timbul rasa tidak sukanya pada sang suami. Namun kesabaran dan sikap lemah lembut Ramlanlah yang membuat Rani luluh dan menyayanginya. Saat telah memiliki buah hatipun ia berusaha menjadi ibu yang baik. Ia bahkan mendidik anak sulungnya sehingga bisa berbahasa Inggris dan menyanyi di usia dua tahun. 

Datangnya Hidayah


Ramlan dan Rani sebelumnya awam ilmu agama. Tidak pernah menempuh pendidikan agama di sekolah khusus. Di kampuspun Ramlan belum tertarik mengikuti kajian. Di awal pernikahan Rani juga belum berhijab. Hingga akhirnya keluarga ini berkenalan dengan Jamaah Tabligh atau Jaulah yang datang ke Nias untuk berdakwah. Ramlan merasa hatinya lebih tenang setelah sholat berjamaah dan mengikuti kajian yang diadakan Jamaah Tabligh. Ranipun memutuskan menutup auratnya dan memakai niqob (cadar).

Hidayah yang membuat Ramlan dan Rani memutuskan untuk mendidik anak secara sunah. Meski tidak punya latar belakang pendidikan khusus agama, mereka ingin mendidik anak-anaknya agar punya kualitas keimanan yang baik dan cinta Al Quran. 

Ramlan dan Rani juga mengubah nama panggilan mereka menjadi Abdurrohim dan Siti Hajar. Alhamdulillah 7 anak mereka kini sudah hafal 30 juz Al Quran di usia muda (5 – 12 tahun). Satu anak meninggal dunia namun sedang dalam proses menghafal, dan anak termuda sudah hafal juz 30. 

Misi Keluarga Serta Peran Ayah dan Ibu 


Saat membaca buku ini, saya bisa ikut merasakan keresahan Abdurrohim dan Siti Hajar. Di mana kini banyak generasi muda jauh dari ajaran Islam dan Al Quran. Ada juga kekhawatiran anak mendapat pengaruh yang tidak baik dari lingkungan.

Saya mencoba menangkap misi keluarga mereka dari kisah yang dituliskan oleh Umi Neny. Bahwa Abdurrohim dan Siti Hajar mempunyai misi agar anak-anaknya menjadi penghafal Al Quran. Bukan sekadar menghafal, namun juga memiliki keimanan dan ketakwaan yang baik pada Allah dan mengamalkan ajaran agama Islam. 

Meski ibu yang menjadi sekolah utama dan pertama bagi anak, namun bukan berarti pendidikan anak semata-mata hanya menjadi tanggung jawab Siti Hajar. Ayahlah yang menjadi pemimpin dan penanggung jawab tertinggi dalam keluarga. Ayah punya tanggung jawab mendidik ibu dan bersamanya mendidik anak-anak. Sebagai kepala keluarga, Abdurrohim merasa wajib menjaga keluarganya dari api neraka dan mempergauli istri dengan cara yang baik.

Keduanya mendidik dan memperlakukan Hasan Basri dan saudara-saudarinya sesuai tahapan usia dan karakter masing-masing (halaman 107). Bisa jadi Abdurrohim dan Siti Hajar tidak pernah mendapatkan ilmu parenting dari seminar atau workshop seperti yang lazim diikuti orang tua di kota-kota besar.

Hanya 5 buku yang mereka gunakan untuk taklim di rumah, dibaca berulang-ulang dan diamalkan. Dari kisah mereka di buku ini saya menemukan kesamaan dengan materi yang disampaikan dalam sebuah seminar parenting Fitrah Based Education atau Pendidikan Berbasis Fitrah. Salah satunya adalah orangtua berkewajiban menjaga fitrah keimanan anak-anaknya, sebagai hamba yang menyembah kepada Allah (halaman 43). 

Sebuah contoh dan pengingat Al Quran dan hadits adalah sebaik-baiknya petunjuk termasuk dalam hal mendidik anak. 

The Purpose of Life


Dalam proses menjalankan misi keluarga merekapun tak lepas dari pandangan miring sebagian orang. Mereka memilih untuk menjalani hidup yang bersahaja, tanpa gawai atau barang mewah, dan anak-anak tidak secara formal bersekolah, fokus menghafal Al Quran di rumah. Abdurrohimpun memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai PNS dan berganti pekerjaan, yaitu fokus berdakwah. 

Keputusan yang aneh bagi sebagian orang. Enak-enak jadi PNS kok berhenti? Cari nafkahnya bagaimana ya? Apa nggak kasihan dengan keluarganya? Jaman sekarang ini apa mungkin hidup tanpa televisi dan gawai? Kalau anak-anak nggak sekolah, bagaimana nanti bisa dapat uang?

Kisah keluarga ini lagi-lagi menjadi contoh berusaha untuk qona’ah atau merasa cukup dan selalu bersyukur dengan karunia Allah. Mereka yakin bahwa Allah yang mencukupi kebutuhan. Kehidupan sederhana menjadikan mereka hanya berharap kepada Allah (halaman 59).


Sebuah keyakinan dari keluarga yang sudah memahami the purpose of life bahwa manusia diciptakan di muka bumi ini untuk beribadah kepada Allah semata dan menjadi menjadi khalifahNya (halaman 189). Tekad untuk memperdalam pengetahuan tentang agama membawa mereka menemukan misi menjadi keluarga penghafal Al Quran dan pendakwah.

“Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk membaca buku setebal 200 halaman ini. Alhamdulillah bisa saya selesaikan dalam waktu semalam. Sampulnya yang didominasi warna hijau memberi kesan teduh dan damai. Foto rumah keluarga Hasan Basri mencerminkan kisah mereka yang hidup dalam kesederhanaan.

Buku inipun ditulis dalam gaya bahasa yang sangat mudah dipahami. Terlebih Umi Neny memang sudah berkunjung ke Nias. Sehingga saat membaca bukunya kita seolah bisa melihat langsung keseharian Abdurrohim, Siti Hajar, beserta anak-anak mereka. Sedikit kekurangan buku ini adalah ada beberapa kesalahan penulisan kata dan penggunaan tanda baca. Selain itu sepertinya ada kesalahan teknis penulisan tahun penerbitan buku. 

Terlepas dari sedikit kekurangan tersebut, saya bisa merasakan semangat Umi Neny saat menulis buku ini. Sebelumnya beliau sudah menulis buku serupa tentang keluarga penghapal Al Quran, namun yang ditulis adalah tentang keluarga Umi Neny sendiri. Menuliskan tentang keluarga lain yang bisa dibilang sebelumnya awam agama, namun bisa mengantarkan anak-anaknya menjadi hafidz Quran. Tentu menjadi sebuah ladang dakwah untuk menyebarkan cinta Al Quran dan cara mendidik anak sesuai ajaran Islam.


Sebuah bacaan yang sangat direkomendasikan untuk para keluarga Muslim. 

40 comments on "Resensi Buku Hafidz Rumahan: Sebuah Teladan Pentingnya Misi Keluarga serta Peran Ayah dan Ibu dalam Pendidikan Anak"
  1. Saya juga suka buku ini, mba Heni. Banyak pelajaran yang bisa saya petik.

    ReplyDelete
  2. MasyaAlloh langsung iri dengan Pak Ramlan dan Bu Rani mba :) kukira yang melahirkan anak2 hafidz itu dari awalnya paham agama sekali nyatanya perlu hidayah itu dicari ya mba :)

    jadi pengen baca bukunya mantap 7 anaknya penghapal al-quran semua

    ReplyDelete
  3. Aduh Mba, merinding saya bacanya, background gak melulu harus paham agama sejak awal ya.. Kita gak tau kapan hidayah itu datang.. Masyaallah..

    ReplyDelete
  4. belum baca buku ini. Tapi biasanya membaca buku-buku sejenis ini memang selalu berasa membawa kesejukan tersendiri di hati sih ya.

    ReplyDelete
  5. Masha Allah, jadi pengen baca bukunya mba, sebagai ibu, rasanya saya haus banget cara mendidik anak sehingga bisa menjadi anak sholeh seperti ini insha Allah :)

    ReplyDelete
  6. Masya Allah, aku terharu sekali membaca kisah ibu dan bapaknya Mbak. Jadi mau nyari kaca, aku ini sudah melakukan apa. Bukunya bisa diperoleh di mana saja Mbak. Tks

    ReplyDelete
  7. Masha Allah penasaran mba, meteka orang tua yang hebat dan anak-anak Jenius mba penasaran aku dengan buku ini

    ReplyDelete
  8. bener nih teh: Bukan sekadar menghafal, namun juga memiliki keimanan dan ketakwaan yang baik pada Allah dan mengamalkan ajaran agama Islam.
    karena ada (banyak) kejadian, udah hafizh tapi gak mau sholat #sad

    ReplyDelete
  9. aku merasa belum mendidik anak dengan baim, mudah2an makin semangat, makin ikhlas memberikan segala akses ilmu ke anak2 semaksimal mungkin, khususnya ilmu agama

    ReplyDelete
  10. Masyaallah cerita bapak ramlan dan ibu rani ini menginspirasi buat saya, bahwa hidayah itu bisa datang kapan saja, banyak PR utk saya agar mendidik anak menjadi anak yg sholeh harus diawali dari orangtuanya dulu

    ReplyDelete
  11. Keluarga teladan. Berapa mengaplikasikan ilmu agama demi kebaikan dunia akhirat itu tidak mudah, namun harga dunia memang murah. Makanya saya salut pada pendakwah yang benar-benar mengaplikasikan ilmu dakwahnya dalam keseharian.
    Duh, punya anak penghafal Al Quran itu anugerah. Insya Allah akan membawa keberkahan bagi diri si anak, kedua orang tuanya, dan sekitar.
    Saya suka cara mengulas Mbak yang mengalir. Enak bacanya dan tahu-tahu selesai. :)

    ReplyDelete
  12. Baca tulisan ini jadi bertanya kepada diri sendiri, sudahkan saya menjadi madrasah buat anak anak aku? tapi memang banyak hikmat yang bisa dipelajari dalam buku ini, salah satunya tentang tanggung jawab mendidik anak bukan semata-mata oleh Ibu, tapi Ayah juga memiliki peran penting.

    ReplyDelete
  13. Kisah keluarga penghafal Quran ini inspiratif sekali ya. Sampai mengundurkan diri sebagai ASN demi menjadi penghafal Quran

    ReplyDelete
  14. Ya Allah, hebat banget ya adik Ahmad Hanzalah. Aku suka takjub dan merinding tiap denger anak-anak kecil melantunkan ayat-ayat Al Qur'an. Alhamdulillah anak-anak sekarang pada pinter-pinter ya :)

    ReplyDelete
  15. MashaAllah inspiring banget perjalanan hidup keluarga ini mba... Ini membuktikan bahwa agama itu mudah dipelajari. Dari yang tidak bisa, bila diniatkan untuk mencapai ridho Illahi... Pasti akan bisa.... Kadang suka menghela nafas ya bila ada orang yang disuruh belajar agama selalu bilang tidak bisa, sudah tua dsb.... Buku ini wajib jadi panduan keluarga muslim agar terinspirasi oleh jalan hidup keluarga Hasan.

    ReplyDelete
  16. Buku yang menarik untuk pendidikan anak-anak. Memang dalam mendidik anak kita harus belajar dari banyak hal dan salah satunya dari buku ini yang mbak.

    ReplyDelete
  17. Saya suka nih kalau buku parenting yang berdasarkan kisah nyata. Jadi lebih dapat menangkap pelajarannya

    ReplyDelete
  18. Wahhh keren banget keluarga ini. Anak-anaknya hafal alqur'an, dan si bungsu udah hafal juz 30 *jempol*

    Anakku aja yang baru hafar beberapa surah pendek saya udah bangga banget :)

    ReplyDelete
  19. Salut buat Pak Hasan Basri yang rela meninggalkan pekerjaannya sebagai PNS dan memutuskan lebih fokus berdakwah :)

    ReplyDelete
  20. MasyaAllah nggak semua mendapat hidayah dan alhamdulillah hidayah itu tiba. Aku penasaran mba buat membaca bukunya. Menarik sekali

    ReplyDelete
  21. Masya Allah luar biasa sekali yaa mba keluarga ini. Suka membaca referensinya dan betapa mereka begitu focus. Semoga bias dicontoh

    ReplyDelete
  22. Maa syaa Allaah kisah yang menginspiratif sekali. Sungguh beruntung keluarga ini, dihinggapi hidayah yang begitu indah. Dari awal berumah tangga masih awam dengan agama namun qadarullaah ketika hidayah itu menyapa, lahirlah dari didikan mereka anak yang menghapal Al-Qur'an. Salut banget saya mbak, sepertinya bukunya juga recommended sekali....

    ReplyDelete
  23. Masya Allah, anak-anaknya udah pada hafal Quran semua. Kereenn banget. Tadi sempat bertanya2, hmmm, apa Ramlan ini berhenti jadi PNS, secara namapun diganti, ternyata emang berhenti, seperti kebanyakan orang yg sudah hijrah. Semoga keluarganya selalu diberi keberkahan. Dan kita pun bisa mengambil kebaikan dari kisah mereka. Jadi pengen baca bukunya juga nih Mbak :)

    ReplyDelete
  24. Masya Allah.. luar biasa ya mba. Niatnya sangat kuat dan betul2 karena Allah, insya Allah. Jadi niat bertemu dengan jalan baik dan dimudahkan pula upayanya. Semoga banyak teladan yang bisa kita ambil dari buku itu mba.

    ReplyDelete
  25. Kisah keluarga ini bener bener menginspirasi banget ya kak, aku jadi pengen beli buku ini juga deh, pengen baca kisah selengkapnya.

    ReplyDelete
  26. Masya Allah hidayah yang diberikan pada Ramlan dan Rani membuat mereka bisa mencetak anak yang cinta Al Quran ya. Aku makin semangat mengajarkan Tahfidz sama anak-anak nih supaya bisa menjadi penghafal Al Quran. Aku jadi pingin baca bukunya nih buat referensi mendidik anak sesuai sunah.

    ReplyDelete
  27. kisah keluarga yang menyentuh sekali ya, senang sekali bisa secara langsung melihat keluarga penghapal Al Qur'an.

    ReplyDelete
  28. Kalau sudah suka baca buku yang diincar mah bakalan cepet bacanya. Semalam 200 halaman itu ajib banget

    ReplyDelete
  29. Inilah yang akan membuat kita bangga sebagai orangtua bisa mengantarkan anak jadi hafiz Alquran.

    Buku ini bisa jadi pengantar semangat kepada orangtua lain untuk berbagi ilmu

    ReplyDelete
  30. Masyaallah, senang ya kalau anak2nya hafidz di usia muda. Barakallah buat mereka sekeluarga 😍

    ReplyDelete
  31. Sungguh membuat hati bergetar membaca perjuangan Ramlan dan Rani dari yang semula awam tentang ilmu agama hingga menjadi pendidik anak-anaknya menjadi hafidz Al Qur'an. Semoga menjadi ladang pahala bagi mereka ya memiliki anak-anak yang sholih/sholihah.

    ReplyDelete
  32. Ya Allah ini buku yang luar biasa ya Mba
    memberikan pengetuahuan, pemahaman dan pengalaman berharga
    jadi pengen punya juga buku teladan macam ini

    ReplyDelete
  33. Tidka banyak emang ortu yang memilih jalan gtu, soalnya takut dipandang aneh sama masyarakat. Tapi salut sama keluarga ini punya visi dna misi yang jelas, mengarahkan keluarga khususnya anaknya jd apa ke depan.
    Jd pengan baca bukunya...

    ReplyDelete
  34. Luar biasa ya cerita bapak ini yang rela meninggalkan pekerjaanya. Hmm,, kayaknya bisa nih di baca bukunya dan mengambil intisari atau hikmah dari cerita2nya.

    ReplyDelete
  35. MashaAllah~
    Kalau kita sudah percaya, Allah saja, in syaa Allah semua urusan dunia beres.

    Termasuk mendidik anak.
    Senang sekali, kak...diingatkan banyak hal melalui membaca buku ini.

    ReplyDelete
  36. Baca ini hatiku mrembes mili mba. Soal hidayah kita ga pernah tau kapan tiba yaa

    ReplyDelete
  37. Wuih, keren banget. 7 anak hafiz. Jadi malu rasanya. Dapet hidayah dan akhirnya bisa meraih prestasi yang luar biasa. Aku ngiri! Dan bagian menjadi teladan untuk anak-anaknya yang paling susah. :(

    ReplyDelete
  38. Kok merinding ya selama baca ulasan buku ini. Terus selain itu, saya jadi mikir apa yang udah saya biasakan pada anak. Rasanya sedih dan malu. Kok ya selama ini saya kurang menjaga fitrah anak. Kapan-kapan aku mau beli buku ini ah. Biar bisa jadi bahan bacaan aku dan suami.

    ReplyDelete
  39. Pengen tahu tips-tipsnya supaya anak bisa jadi hafidz. Bapaknya berani banget ya resign. Jadi fokus ajarin anaknya hapal quran.

    ReplyDelete
  40. Masya Allah senang banget punya anak2 yg hafidz hafidzah jd investasi buat di akhirat nanti..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung ke Our Happy Project by Keluarga Hasan
Mohon tidak berkomentar dengan kata kasar, spam, atau dengan link hidup ya
Terima kasih

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9